Seminar Nasional Kebudayaan Kontemporer II: Oase di Tengah Gempuran Iman Pragmatisme

Dr. Acep Iwan Saidi sedang membacakan “Testimoni untuk Negeri: Bangsa dalam Patahan  Narasi” di dalam Seminar Nasional Kebudayaan Kontemporer II “Surat Malam untuk Presiden: 84 Patahan Narasi” di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, 29 Oktober 2012 (foto: Adityo B. Hardoyo)

Ganesa (29/10/12), Untuk kedua kalinya, Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB menyelenggarakan Seminar Nasional Kebudayaan Kontemporer (SNKK). Seminar bertajuk “Surat Malam untuk Presiden: 84 Patahan Narasi” merupakan seri kedua SNKK yang diselenggarakan 29 Oktober 2012. Seminar kali ini bertolak dari dua peristiwa yaitu 84 tahun sumpah pemuda dan terbitnya buku karya Dr. Acep Iwan Saidi Surat Malam untuk Presiden: dari narasi 501 status facebook.

Seminar sebelumnya dilaksanakan 2011 dengan tema “55 Lipatan Dunia: mengurai pemikiran Yasraf Amir Piliang” yang diselenggarakan pada 25 Oktober 2011. Seminar pertama dilaksanakan dengan mengusung pemikiran Dr.Yasraf Amir Piliang.

Seminar kedua yang dilaksanakan 29 Oktober 2012 ini berlangsung sejak pukul 08.00 hingga pukul 16.30. Di dalam seminar ini dilaksanakan satu pembacaan testimoni oleh Dr. Acep Iwan Saidi, dua sesi seminar, dan satu monolog yang dipentaskan Wawan Sofwan.

Seminar Sesi pertama dimoderatori oleh seniman Tisna Sanjaya. Tisna Sanjaya memandu acara dengan sangat menarik disertai seloroh-seloroh khasnya. Pada sesi ini terdapat empat pembicara yaitu Dr. Intan Rizky Mutiaz dari DKV FSRD ITB yang berbicara tentang narasi media sosial dan kebangsaan. Rektor Universitas Multimedia Nasional, Dr. Ninok Leksono, berbicara tentang narasi media dan problematika kebangsaan. Dia membahas berbagai perubahan yang terjadi di dunia media setelah munculnya internet dan peran media (wartawan) di dalam kehidupan masyarakat sekarang. Pemimpin redaksi Pikiran Rakyat, Budhiana Kartawijaya, menyoroti internet sebagai media publik. Dia membahas apakah internet adalah media publik atau ruang publik yang kosong? Pada sesi ini, politisi DPR RI, Rieke Diah Pitaloka berbicara tentang narasi kerakyatan dalam politik.

Setelah Seminar sesi pertama, Wawan Sofwan tampil dalam sebuah monolog bertajuk ”Surat Malam untuk Presiden” yang naskahnya diambil dari tulisan Acep Iwan Saidi dengan judul sama yang beberapa bulan lalu sempat ramai dibicarakan di berbagai media massa. Wawan tampil dalam sebuah set panggung yang terdiri atas sebuah kursi dan meja kerja, sebuah lampu balajar, dan pigura foto yang digantung. Dengan menggunakan pakaian tidur ia tampil seolah-olah sedang berdialog dengan presiden imajiner yang ia bayangkan berada di dalam pigura tersebut. Monolog yang berdurasi kurang lebih dua puluh menit itu mampu menggetarkan dan membuat penononton terkesima.

Sementara itu, seminar sesi kedua dipandu oleh seniman Aat Suratin. Pada sesi ini, pakar astronomi ITB, Prof. Dr. Bambang Hidayat berbicara tentang bahasa dan keilmuan yang menjadi tangung jawab bersama untuk menghalau ancaman rusaknya bahasa. Sementara itu, pakar matematika yang dikenal juga sebagai pemerhati pendidikan, Prof. Dr. Iwan Pranoto, menyoroti budaya bernalar di dalam pendidikan di Indonesia dengan judul presentasi “Menggenapkan Budaya Bernalar: Gaung Dzikir Kegelisahan Pendidik”. Sementara itu, Sastrawan dan perupa Acep Zamzam Noor menyoroti persoalan kebangsaan dengan cara yang unik. Ia mengangkat fenomena Gacrit yang dikenal di masyarakat kaki Gunung Galunggung Tasikmalaya. Gacrit berasal dari dua kata Gacong (menuai padi di sawah) dan ngarit (memotong rumput) yang dua-duanya merupakan pekerjaan sampingan bagi orang kaki Gunung Galunggung. Istilah gacrit kemudian berubah makna menjadi eufimisme dari “korupsi” yang beredar di kalangan pemerintah di Tasikmalaya. Gacrit dengan sebagai eufimisme korupsi membuat orang-orang menjadi toleran terhadap korupsi. Sementara itu, di akhir seminar sesi ini, Dimas Ginanjar Merdeka yang dikenal dengan sapaan Bob Merdeka menceritakan bagaimana memaksimalkan penggunaan media sosial untuk membangun bisnis atau menghidupkan industri kreatif.

Seminar ini secara umum membahas iman pragmatisme yang kini menguasai masyarakat Indonesia. Budaya serba instan yang menghinggapi berbagai sektor kehidupan masyarakat kita harus disikapi secara kritis. Kita memerlukan harapan, semangat, proses yang benar, kesubliman cara berpikir di dalam banyak sektor kehidupan. Kita tidak boleh prescription flagyl hanya mementingkan hasil, budaya instan, yang penting mudah, dan seterusnya sebagaimana fenomena yang sekarang ini terjadi.

Pada seminar kali ini Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB bekerja sama dengan Yap Institute, Common Room Network Foundation, dan Jurnal Sosioteknologi. Seminar ini rencananya akan dilaksanakan tiap tahun pada bulan Oktober dengan mengangkat wacana pemikiran berbagai tokoh pemikir di Indonesia. Dengan dilaksanakannya seminar semacam ini, diharapkan akan lahir-lahir pemikiran-pemikiran, para pemikir baru, lahir juga sikap bernalar yang baik, dan secara lebih jauh diharapkan munculnya perubahan di dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik. Seminar ini daharapkan dapat menjadi oase di tengah keringnya kehidupan bernegara dan bermasyarakat kita.*** (Jejen Jaelani)

Berita Terkait