Kongres Seni dan Kebudayaan 2014: Redefinisi Pendidikan Tinggi Seni

Pada hari Rabu dan Kamis, 5 dan 6 November 2014 telah dilaksanakan Kongres Seni dan Kebudayaan 2014: Redefinisi Pendidikan Tinggi Seni yang bertempat di Riviera Room The Luxton Hotel, Jl. Ir. H. Djuanda 18 Bandung. Kongres tersebut mengetengahkan permasalahan-permasalahan terkini yang terjadi di dunia pendidikan tinggi seni yang antara lain terjadi karena pengaruh aspek sosial, budaya, politik, ekonomi di tingkat lokal/global yang berubah-ubah terhadap wajah pendidikan tinggi seni di tanah air. Pengaruh itu bisa dilihat pula pada sistem produksi, distribusi dan resepsi pengetahuan seni di kalangan masyarakat luas yang lalu mendesakkan perubahan-perubahan dalam, misalnya: tata nilai yang diejawantahkan dalam kurikulum; sistem penilaian kinerja keprofesian dosen terkait keahlian kelimuannya; sistem penilaian kualitas seni dalam pengajaran di kelas; dan secara umum mematok parameter-parameter seni dilihat dari faktor internal dan eksternal pendidikan.

Kongres tersebut dibagi atas dua bagian yaitu pertama, kongres utama dengan keynote speaker Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA., Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro dan Prof. Sardono W. Kusumo. Bagian kedua dari kongres adalah rangkaian Sidang Pleno I-IV dengan permasalahan khusus yaitu:

  1. Kompleksitas Pendidikan Tinggi Seni dan Kebudayaan di Indonesia
  2. Resepsi dan Penilaian Hasil Penelitian & Karya Seni
  3. Diseminasi Penelitian Seni dan Tantangan Masa Depan
  4. Penciptaan Seni dan Tantangan Perubahan Bangsa

Masing-masing topik tersebut dibahas oleh 4 hingga 5 orang pembicara. Kongres ditutup dengan Sidang Pleno V yang merupakan pembacaan rumusan dan dengar pendapat hasil Kongres tersebut.

Informasi selengkapnya: kongressenidankebudayaan2014-fsrditb.com

Berita Terkait