Kolaborasi Desain Produk FSRD ITB & Musashino Art University: Bamboo Design Workshop 2015

Pada 19-27 Pebruari 2015, untuk keenam kalinya diselenggarakan workshop desain produk bambu kolaborasi antara dua lembaga: Musashino Art University (MAU) dan Desain Produk FSRD ITB. Sebagaimana di tahun sebelumnya MAU datang ke FSRD ITB secara grup yang terdiri dari 18 mahasiswa, 2 asisten, dan 2 profesor (Bando Takaaki/Design Science dan Satoshi Nishikawa/Ceramics). Sedangkan Desain Produk FSRD ITB menyambutnya melalui satu tim dosen Desain Produk (Dudy Wiyancoko, Deddy Wahjudi, Adhi Nugraha, Andar Bagus, M. Ihsan, Dwinita Larasati), asisten dosen dan sekitar 40 mahasiswa semester 6. Program workshop ini berlangsung selama 10 hari di FSRD ITB. Tema workshop adalah tentang “seikatsu-hin” (produk keseharian), yakni pengembangan produk keseharian dengan memanfaatkan material bambu untuk kebutuhan hunian masa kini. Selain itu diselenggarakan pula small-exhibition yang menggelar berbagai prototypes produk bambu sebagai rujukan bagi para partisipan workshop, mulai dari furnitur duduk, lampu dan stationery.

Pembukaan acara ini diawali dengan berbagai pengantar oleh para pengajar kedua lembaga ini hingga resmi dibuka oleh Dr. Adhi Nugraha, Ketua Program Studi Desain Produk sekaligus mewakili FSRD ITB. Pada prinsipnya para partisipan diingatkan akan betapa pentingnya penguasaan karakter material dan teknik dalam mendesain produk, yang sebagai tantangan awalnya adalah penguasaan karakter bambu yang walaupun keras namun lentur dan ringan.

Workshop diawali dengan field-trip ke berbagai tempat yang terkait dengan pemanfaatan bambu untuk produk keseharian, misalnya tinjauan ke warga Kampung Naga, kunjungan ke sentra industri bambu, area wisata Dusun Bambu, komunitas bambu dan berbagai area lainnya. Setelah kembali ke ITB, partisipan membagi dirinya menjadi enam kelompok yang masing-masing merumuskan ide desain beserta konsep desainnya. Setiap kelompok selanjutnya membuat model berskala maupun prototypes. Pembuatan prototypes ini dibantu oleh perajin-perajin senior yang khusus didatangkan dari Tasikmalaya, hingga hasilnya digelar dalam forum presentasi akhir.

Dalam realitas pelaksanaannya, masing-masing kelompok bekerja ekstra keras untuk bisa menghasilkan produk bambu. Walaupun antar-partisipan (Jepang dan Indonesia) terkendala persoalan bahasa, pada akhirnya mereka bisa saling akrab dan solid dalam menghasilkan produk-produk inovatif, misalnya: jam matahari dari bambu, peralatan yang bisa dibongkar-pasang, bangku publik yang bisa dilipat, dan sebagainya.

Di balik semua karya tersebut, terselip upaya penyadaran kepada kita semua bahwa bambu memang diciptakan sebagai materi penting untuk terus diolah oleh para kreatif. Sebab selama bambu belum terolah secara baik, material ini akan selalu dipandang bernilai rendah. Para filosof desain Jepang sering menyebut bambu sebagai “monozentai-katsuyou”, atau materi yang seluruh bagiannya memiliki manfaat. Bambu Jepang jenis “madake”, memiliki manfaat yang tiada habis bagi mereka. Batangnya mampu menjadi tiang, serutannya bisa menjadi anyaman, pecahannya menjadi papan, seratnya menjadi tali, teksturnya menjadi ornamen, serbuknya menjadi komposit, dan seterusnya.

Semangat untuk mengolah bambu menjadi manfaat inilah yang menjadikan para mahasiswa peserta workshop rela bertekun-tekun menghasikan produk bambu kreatif. Apalagi di sela kerja kerasnya mereka banyak diberikan waktu untuk berwisata dan berkunjung ke objek-objek wisata di seputar Bandung. Sehingga tak heran bila mereka menjadi sangat akrab dan saling bersahabat. Inilah yang menjadi tujuan workshop ini diadakan, yaitu melalui desain produk bambu, kita membangun persahabatan antar-manusia, antar-ilmu, dan antar-kebudayaan. (–Dudy Wiyancoko–)

musashino2

Suasana diskusi partisipan Jepang dan Indonesia.

musasino 3
Suasana presentasi akhir: desain dan model produk.

Berita Terkait