Amorf-scape; Seni Keramik Moderen Bandung

  • amorf-scafe

Amorf-scape; Seni Keramik Moderen Bandung.
Mulai jam 17 Maret 2016, jam 14,00 di Lawangwangi – Bandung.
amorf-scafeJika menyaksikan Jakarta Contemporary Ceramic Biennale (JCCB) yang tahun ini akan menginjak penyelenggaraan ke empat, tampak bahwa praktik seni dengan material paling elemental ini menawarkan visi estetik dan problem artistik yang beragam. Sudah lazim pula kita melihat seniman non spesialis keramik mempergunakan media ini dalam praktik seni rupa kontemporer. Bahkan sebagian kalangan mensinyalir ini sebagai gejala global. Seiring dengan itu pula, wacana dan konteks keramik dalam seni rupa kontemporer menjadi perbincangan menarik, seperti yang telah menjadi spirit bienal keramik kontemporer Jakarta sejak tahun 2009. Pameran ini membawa semangat yang sama serta didasari bahwa kesadaran akan kekinian selalu membutuhkan kesadaran historik. Harapannya, pembacaan terhadap praktik seni keramik sebelum masa seni rupa kontemporer ini, akan memungkinkan kita menemukan ruang pemahaman lebih luas terhadap praktik seni keramik kini.

Pameran ini merupakan kerjasama antara Program Studi Seni Rupa ITB dengan 4th Jakarta Contemporary Ceramic Biennale dan Lawangwangi Creative Space. Materi pameran adalah karya-karya mahasiswa dan staf pengajar seni keramik ITB dalam rentang waktu tahun 1970 sampai dengan tahun 1990. Hampir semua karya merupakan koleksi Studio Seni Keramik ITB. Karya-karya yang berumur 20 tahun atau bahkan lebih ini, belum pernah dipamerkan bersama-sama atau pun dipublikasikan, sebab itu hampir bisa dipastikan publik di luar institusi ITB, dan generasi sekarang tidak mengenalnya.
Pameran yang dikuratori oleh Nurdian Ichsan dan Rizky A. Zaelani, keduanya juga adalah kurator 4th JCCB, mengusung tema “Amorf-scape”. Istilah ini untuk menggambarkan material lempung, seperti juga diungkapkan oleh pematung dan pengajar seni keramik ITB Rita Widagdo sebagai bahan “paling tidak tentu”. Lempung adalah material paling mendasar dan mentah yang bisa bermutasi menjadi bentuk lain. Sifat cair dan jinak ini menawarkan keleluasaan seniman dalam memperlakukan lempung.

Karya-karya dalam pameran ini dipahami berdasarkan problem antara keleluasaan dan ketidaktentutan tersebut. Jika seorang seniman membebaskan diri dari dorongan dan intensi untuk
meniru sesuatu, maka ia akan berhadapan langsung dengan problem tersebut. Maka seniman cenderung memperlakukan lempung sebagai material untuk dijelajahi, di mana setiap tindakan akan secara langsung mempengaruhi bentuk. Pada karya-karya ini, terdapat spektrum antara apa yang “tak tentu” atau disorder ini dengan yang “tertentu” atau order. Spektrum tersebut merentang dari karakter-karakter mentah lempung seperti bongkahan, patahan, dan retakan, sampai dengan karakter hasil manipulasi tangan dan alat berupa bentuk-bentuk geometris dengan permukaan yang rata dan halus.

Premis tersebutlah yang menjelaskan mengapa praktik seni keramik moderen ITB sangat cocok dengan prinsip seni formalisme. Bahkan bila dalam praktik seni lukis dan seni patung menggunakan abstraksi sebagai metode, maka melalui karya-karya dalam pameran ini, kita bisa memahami bahwa
sejak awal lempung itu sendiri sudah bersifat abstrak.

Menampilkan karya-karya keramik antara lain:
Bambang Prasetyo, Hendrawan Riyanto, Asmudjo Jono Irianto, Ferry Pharama, Nugroho Sulistianto, Marintan Sirait, Dezsiana Machmud, Hendri Saifulhayat Herres, Ira Adriati, Susi Abdurrachman, Ira Loebis.

Berita Terkait