Membahas Kriya dalam Manusia, Dimensi, dan Makna di BINAR 2019

BANDUNG, itb.ac.id – Pernahkah Anda mendengar kata kriya sebelumnya? Keilmuan kriya ternyata masih belum cukup popular di masyarakat. Untuk itu, program studi Kriya ITB menyelenggarakan Binar 2019 pada Jumat – Minggu, 29 -31 Maret 2019 di Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo, Bandung dalam rangka mengenalkan keilmuan kriya.

“Sudah lama kriya ada dalam kegalauan dalam menentukan posisinya sebagai sebuah karya seni atau desain, tapi kenyataanya kriya adalah dualisme dari kedua entitas tersebut,” ucap ketua pelaksana, Titis Embun diwawancara reporter Kantor Berita ITB.

Pemikiran inilah yang mengundang ide kolaborasi dalam Binar 2019 dengan entitas, seni, kriya, maupun desain. Tema yang diangkat pun adalah makanan, sebuah hal yang dekat dengan masyarakat. “Kami di sini memamerkan karya-karya hasil keilmuan seni, desain, maupun kriya, tanpa menuliskan kategori tersebut pada karya. Manifestasinya pun dituang dalam makanan sehingga orang yang melihat bisa lebih luwes dalam menentukan kategori itu secara pribadi,” lanjut Titis.

Dalam acara tersebut, juga diselenggarakan talkshow dengan tema “Kriya dalam Manusia, Dimensi, dan Makna”. Talkshow ini mengundang dosen Kriya ITB, Yan Yan Sunarya, lalu seniman Erik Pauhrizi, dan terakhir, seorang antropolog, Hardian Eko Nurseto. Mereka bertiga membahas kriya dalam tema talkshow sesuai pandangan dan pengalaman mereka masing-masing.

Yan Yan Sunarya membuka talkshow ini dengan membahas kriya secara teknis dan keilmuannya sebagai pengajar. “Saya selalu mengindentifikasi suatu karya sebagai kriya jika menitikberatkan karyanya pada teknik, material, dan kemanfaatannya,” ungkap dia di awal. Namun, ini tidak berarti ilmu kriya akan lari dari rasa seni ataupun fungsi desain. “Sering kali orang memang menganggap rendah kriya, mereka mengganggap pengrajin adalah ‘orang bawah’ dalam seni. Padahal kekriyaan tidak pernah melarang masuknya seni ataupun desain, justru itu akan menjadi kekuatan baru dan kekayaan yang tak ternilai,” lanjut Yan Yan.

Talkshow selanjutnya disampaikan Erik Paurizi, seorang seniman yang menggunakan kekriyaan sebagai ‘senjatanya’. Erik memang lulus dari Kriya ITB, tapi kenyataanya dia malah sangat sering untuk ikut dalam proyek seni ataupun pameran seni internasional yang bergengsi. “Saat saya ke Jerman, orang-orang masih banyak menertawai seni yang saya bawakan. Bagi mereka kriya bukanlah sebuah seni,” cerita Erik.

Ia juga meyakini bahwa keindahan itu tidak boleh ditentukan oleh sekelompok golongan saja, seperti golongan seniman Barat.”Saya di sana memang melakukan penelitian terhadap kolonialisme seni. Saya ingin menunjukkan bahwa kriya juga bisa jadi nilai indah sendiri. Kita harus bisa menemukan makna bangsa kita sendiri, yang saya yakini bisa melalui kekriyaan, tidak bisa kita terpaku selalu pada pandangan indah bangsa-bangsa Barat,” ungkapnya bersemangat.

Terakhir, Hardian sebagai antropolog kembali membawa peserta talkshow dalam tema besar Binar 2019 yaitu makanan. Hardian mencoba untuk melihat karya-karya kriya yang tidak bisa lepas dari kehadiran manusia dan kemanfaatannya. “Bisa dikatakan, manusia dalam kasus saya orang Indonesia, sangat bisa berubah karena benda-benda yang ia kenal,” buka Hardian dalam presentasinya. Ia memberikan contoh seperti mangkuk. Mangkuk bukan asli Indonesia melainkan bawaan dari negeri Tiongkok.

“Penggunannya juga terus berubah dari menyimpan sesajen sampai jadi alat makan, saya rasa ini yang mengakibatkan perlunya pemaknaan terhadap karya kriya, yang juga tak bisa lepas dari manusia,” tutup antropolog muda dari Universitas Padjajaran ini.

Reporter: Ferio Brahmana (Teknik Fisika 2017)

Berita Terkait