ARTESH 2018, Membahas Hubungan Seni, Teknologi, Sains dan Lingkungan

ARTESH 2018, Membahas Hubungan Seni, Teknologi, Sains dan Lingkungan

BANDUNG, itb.ac.id – Konferensi internasional Art for Technology, Science, and Humanities (ARTESH) sukses diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB pada 30 November – 1 Desember 2018. Tema yang diangkat dalam ARTESH berkaitan dengan seni ITB yang berada di tengah-tengah rumpun sains, teknik, dan sosial.

“Dahulu seni itu terpisah dan terpotong-potong, namun sekarang seni menyatu kembali. Misalkan bicara tentang seni untuk rumahan atau bicara tentang seni sebagai bridging (jembatan) antara teknologi dengan manusia itu sendiri sekarang itu sudah lebih diterima dan dipahami,” kata Dede Hendan Durahman selaku wakil ketua acara ARTESH tersebut.

Konferensi berlangsung dua hari. Pada 30 November 2018, menghadirkan empat pembicara yaitu Dr. Ignas Kleden yang membawakan topik Art, Science, and Humanities, kemudian Prof. Iwan Pranoto, Ph.D (FMIPA ITB) membicarakan mengenai “The Role of Art in Higher Education”, pembicara ketiga yaitu Dr. Bitasta Das (Center for Contemporary Studies, Bangalore India) dengan topik “Artistic Exploration in Scientific Research & Technology”, terakhir yaitu Dr. Edwin Jurriens (Asia Institute, University of Melbourne, Australia) yang membicarakan mengenai “Future Interdisciplinary Interaction between Art, Science, and Technology.”

Konferensi di hari kedua yaitu 1 Desember 2018, menampilkan lebih banyak pembicara yaitu Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, MA (FSRD-ITB) yang membawakan topik “The Relevance of Art Higher Education in the Era of Industrial Revolution 4.0”, kemudian Dr. Chaitanya Sambrani (Australia National University) dengan topik “Trans Disciplinary Approach in the Latest Art Creation and Studies”, Dr. Ulrich Plank (HBK Braunschweig, Germany) dengan topik “The Role of Technology in Art Education”, Dr. Jean Couteau (Art Critic & Writer, France) yang berbicara mengenai “Art in Transcultural Development”, Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA (FSRD ITB) dengan topik mengenai “Traditional Art: Revitalization and New Technology”, pembicara terakhir yaitu Irma Hutabarat (Aktivis Lingkungan) yang akan menerangkan mengenai “Art and Environment”.

Selain konferensi, diadakan pula pelatihan pada 2 Desember 2018 yang mengangkat dua tema yaitu “Seni Rupa dan Lingkungan: Inovasi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat melalui Kegiatan Seni Berbasis Potensi Lokal Masyarakat Setempat” serta “Penelitian dan Penciptaan Karya Seni Patung : Kapal Bercadik dari Relief Candi Borobudur”. Prof. Dr. Setiawan Sabana mengatakan bahwa workshop ini bertujuan sebagai bentuk pengaplikasian dari teori dan ilmu yang didapat pada konferensi dua hari sebelumnya. “Ya, jadi workshop ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ilmu yang didapatkan pada konferensi bisa diaplikasikan secara langsung. Tidak hanya omong kosong saja,” katanya.

Sebelumnya, panitia sempat menggelar jumpa pers terkait ARTESH 2018. Irma Hutabarat sebagai seorang aktivis lingkungan menceritakan mengenai pengalamannya dalam membenahi Sungai Citarum dan Situ Cisanti yang ia kaitkan dengan “Art and Environment”. “Ada sebuah tempat yang saya bangun di bantaran Sungai Citarum bernama Bumi Pohaci. Disitu saya membuat pembibitan vetiver (tanaman yang dapat membersihkan limbah cair) sekitar 4 tahun lampau. Saya bersama Prof Wawan (Setiawan Sabana) melahirkan yang namanya Citarum Care untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli dan meningkatkan awareness masyarakat Bandung. Lusa (1/12/2018), yang akan saya bawakan bagaimana vetiver itu bukan hanya bisa menyelamatkan alam, namun juga dapat berguna sebagai sanitasi,” terang Irma.

Irma mengatakan bahwa sanitasi yang baik dapat menciptakan tempat yang bersih, tidak bau, artistik dan juga hijau. Membenahi lingkungan menjadi bersih dan sedap dipandang inilah yang ia tekankan sebagai sebuah “Art of Living with Vetiver.” Hampir serupa dengan Irma, Prof. Setiawan Sabana turut membahas mengenai Seni Rupa dalam Konteks Kultural dan Lingkungan. Setiawan mengatakan bahwa bermula dari memelihara selokan yang ada di sekitar hunian dapat memunculkan keindahan lingkungan yang dapat disebut sebagai sebuah seni. “Selain memberikan keindahan, membenahi selokan pun turut membantu meminimalisir jumlah sampah yang akan mengalir ke Sungai Citarum dan Situ Cisanti,” ujarnya.

Reporter Kantor Berita ITB: Qintara Silmi Faizal

Berita Terkait