* JURNAL ILMU DESAIN *

JURNAL ILMU DESAIN VOL. 2 NO.1 2007

a. DWINITA LARASATI – BAMBOO PRODUCTS DEVELOPMENT USING HYBRID TECHNOLOGY: A Design Research on Bamboo’s Potential. (hlm. 1-14).
Ringkasan
Artikel ini merupakan artikel kedua dalam penelitian tentang potensi bambu, dan bertujuan memberikan rekomendasi bagi pengembangan bambu sebagai bahan penting untuk produk industri. Penelitian ini mengulas tiga faktor penting untuk pendaya-gunaan bambu: (a) kontribusi teknologi maju bagi peningkatan kualitas material bambu; (b) pendaya-gunaan sumber daya manusia (SDM) melalui penerapan teknologi hybrid; dan (c) inovasi desain bagi produk bambu yang dapat menjangkau pasar secara lebih luas. Situasi masa kini memerlukan suatu analisis faktor yang menuntut perubahan dalam metoda penyediaan bahan baku, produksi dan distribusi, dan penggunaan material dan desain produk bambu.

b. HARI NUGRAHA, DUDY WIYANCOKO, YASRAF AMIR PILIANG – Desain Angklung Tradisional dan Modern. (hlm. 15-30).
Ringkasan
Penelitian ini dibuat dengan dasar pemikiran bahwa angklung merupakan produk budaya milik Indonesia. Tujuannya adalah untuk mencari bentuk dari proses perubahan desain angklung, khususnya yang ada di Jawa Barat. Dengan melakukan kajian komparatif terhadap beberapa jenis angklung berdasarkan periode tertentu dalam masyarakat Sunda, akan diperoleh perubahan karakteristik desain angklung, baik pergeseran makna simbolik, cara memainkan, proses pembuatan, bentuk fisik maupun bentuk pertunjukannya. Studi memaparkan proses perubahan awal (a) desain angklung buhun dari masyarakat Sunda peladang dengan sistem kepercayaan Sunda wiwitan dan Hindu. Selanjutnya adalah perubahan bentuk angklung akibat (b) pengaruh budaya Islam hingga (c) pengaruh oleh pola pikir dan sistem pendidikan musik Barat (Belanda). Dari pengaruh yang ada, desain angklung mengalami beberapa perubahan bentuk dan fungsi. Angklung yang awalnya memiliki fungsi ritual-transenden untuk tujuan rohani spiritual, begeser untuk tujuan pendidikan, pengenalan budaya tradisi melalui pertunjukan dan komersialisasi.

c. RIAMA MASLAN SIHOMBING, YASRAF AMIR PILIANG, A.D. PIROUS – Citraan Perempuan di Internet: Kajian Tanda Dan Kode Visual. (hlm. 31-44).
Ringkasan
Populernya penggunaan internet merubah citraan perempuan, yang sebelumnya sering sebagai obyek pasif, terdominasi, dan bergantung, kini menjadi subyek yang aktif dalam media dan sanggup menentukan citranya sendiri. Penelitian ini untuk membuktikan bahwa fenomena ini benar terjadi melalui kajian terhadap 17 contoh situs yang berkaitan dengan perempuan. Situs tersebut dipilih dan dianalisis kode visualnya. Dalam artikel ini hanya disampaikan 7 kasus yang paling menunjukkan bahwa citraan perempuan di internet kini telah berkembang ke berbagai karakter, yaitu perempuan sebagai figur yang: aktif, bebas dan intelektual. Ketujuh kasus tersebut sebagian besar adalah situs tentang perempuan yang dibuat di Amerika. Kajian ini menggunakan metode semiotik dan analisis visual, yakni dengan memahami tampilan visual situs sebagai sistem tanda.

d. HARMEIN KHAGI, VELIX SUTANTO, KUSPRASAPTA MUTIJARSA, BRAM PALGUNADI, OEMAR HANDOJO – Desain Produk Robot Pencari Korban Bencana Gempa Bumi. (hlm. 45-56).
Ringkasan
Penelitian didasari pemikiran bahwa peran desain produk dengan memanfaatkan teknologi robotik sangat diperlukan dalam penanganan pasca bencana di Indonesia. Melalui perspektif industrial design, penulis dan tim berupaya mengembangkan desain produk robotik dengan fungsi untuk mencari korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan di area pasca bencana. Desain produk ini dinamai Viroids, merupakan autonomous mobile robot dengan kemampuan mencari korban. Proses desain dilakukan dengan pendekatan multidisiplin, yakni bidang desain produk, teknik elektro, teknik mesin, dan kepakaran di bidang penanganan pasca bencana. Produk robotik ini dilengkapi fungsi: (a) sistem penggerak dan sensor infra red untuk menghindari tabrakan; (b) kamera CCTV untuk mengenali korban;(c) lampu LEDs, speaker dan microphone untuk komunikasi. Desain Viroids ini diharapkan mampu menjangkau area reruntuhan yang sempit dengan kontur tanah tidak rata dan berpeluang untuk dikembangkan lebih lanjut oleh lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan produk industri di Indonesia.

e. DIAN WIDIAWATI – Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Sebagai Bahan Baku Alternatif Tekstil. (hlm. 57-64).
Ringkasan
Penelitian didasari pemikiran bahwa peran desain produk dengan memanfaatkan teknologi robotik sangat diperlukan dalam penanganan pasca bencana di Indonesia. Melalui perspektif industrial design, penulis dan tim berupaya mengembangkan desain produk robotik dengan fungsi untuk mencari korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan di area pasca bencana. Desain produk ini dinamai Viroids, merupakan autonomous mobile robot dengan kemampuan mencari korban. Proses desain dilakukan dengan pendekatan multidisiplin, yakni bidang desain produk, teknik elektro, teknik mesin, dan kepakaran di bidang penanganan pasca bencana. Produk robotik ini dilengkapi fungsi: (a) sistem penggerak dan sensor infra red untuk menghindari tabrakan; (b) kamera CCTV untuk mengenali korban;(c) lampu LEDs, speaker dan microphone untuk komunikasi. Desain Viroids ini diharapkan mampu menjangkau area reruntuhan yang sempit dengan kontur tanah tidak rata dan berpeluang untuk dikembangkan lebih lanjut oleh lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan produk industri di Indonesia.

JURNAL ILMU DESAIN VOL. 1 NO. 3 2006

a. A. D. PIROUS – Sejarah Poster Sebagai Alat Propaganda Perjuangan di Indonesia. (hlm. 139-158).
Ringkasan
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan sejarah, dengan mengulas peran poster sebagai media propaganda di masa perjuangan revolusi Indonesia 1945-1948. Data-data yang diperoleh di artikel ini merupakan data primer melalui wawancara langsung dengan tokoh-tokoh sejarah seni rupa Indonesia waktu itu, yaitu: Affandi, S. Sudjojono, Surono, dan Srihadi Soedarsono. Dari analisis yang dilakukan, bisa disimpulkan bahwa desain poster perjuangan memiliki dua fungsi penting: (1) Sebagai penyampai pesan bagi masyarakat internasional tentang realitas perjuangan; (2) Sebagai penyampai aspirasi politik masyarakat di dalam negeri. Melalui artikel ini ditunjukkan bahwa bidang seni rupa dan desain memberi peran penting dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan di Indonesia tidak lepas dari peran poster perjuangan oleh para tokoh-tokoh seniman besar yang peduli terhadap nasib bangsanya.

b. PRIYANTO SUNARTO – Metafora Visual Kartun Editorial Pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957. (hlm. 159-176).
Ringkasan
Kartun editorial adalah kolom kartun yang muncul secara berkala di halaman yang tetap di suatu surat kabar. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami latar belakang sosial politik dan budaya masyarakat terhadap penampilan visual kartun editorial di masa demokrasi parlementer di Indonesia (1950-1957). Tujuannya untuk memahami bagaimana metafora kartun editorial berelasi dengan situasi politik multi partai dan tingginya kebebasan menyatakan pendapat. Pendekatan yang ditempuh dalam riset ini adalah pendekatan tipologi visual. Melalui penguraian konsep kartun editorial pada masa itu, penelitian juga menganalisis aspek metafora visual dari 344 artifak kartun oleh 7 surat kabar di Jakarta. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa metafora visual kartun editorial masa itu disampaikan dengan sikap emotif sangat terbuka dan tajam.

c. DWINITA LARASATI – Uncovering The Bamboo of Indonesia. (hlm. 177-190).
Ringkasan
Dalam penelitian ini diulas tiga faktor utama yang dapat meningkatkan pendayagunaan bambu, sebagai berikut: kontribusi teknologi maju bagi peningkatan kualitas material bambu; pendayagunaan sumber daya manusia (SDM) melalui penerapan teknologi tepat guna; dan inovasi desain bagi produk bambu fungsional yang dapat menjangkau pangsa pasar potensial yang lebih luas. Tinjauan terhadap situasi masa kini mengarah ke analisa faktor perlunya beberapa perubahan dalam metoda penyediaan bahan baku, produksi dan distribusi, dan penggunaan material dan desain produk bambu. Artikel ini adalah bagian pertama dari dua seri artikel. Bagian pertama ini membahas industri bambu di masa lalu dan masa kini; sedangkan bagian keduanya lebih terfokus kepada sebuah kasus desain dan memberikan rekomendasi pemakaian bambu di masa mendatang sebagai salah satu bahan baku produk industri.

d. ELLYA ZULAIKHA
Diversifikasi Desain untuk Pengembangan Industri Kerajinan Manik-manik Kayu. (hlm. 191-202).
Ringkasan
Industri tasbih dari bahan manik-manik kayu di Kediri adalah industri yang sangat potensial untuk dikembangkan, mengingat jenis kayu yang digunakan seperti Garu, Stigi, Sono, Cendana dan Secang adalah kayu kualitas unggul khas Asia yang telah terbukti keawetan, keunikan tekstur dan kekuatannya. Namun demikian, desain produk yang dihasilkan industri ini cenderung itu-itu saja, hanya menjadi tasbih saja, sehingga tidak ada peningkatan produktivitas dan peningkatan nilai jual produk. Penulis mencoba mendiversifikasi dan mengembangkannya menjadi desain benda pakai sederhana lainnya, misalnya: tas, wadah kayu, dan lain-lain. Awal pengembangan industri ini adalah dengan menggunakan analisis SWOT.Selanjutnya adalah dengan melakukan eksperimentasi karakteristik tiap jenis manik-manik. Berikutnya, dilakukan eksperimen kombinasi manik-manik dengan teknik anyam tertentu, hingga sampai pada pembuatan prototype sebagai acuan pelatihan bagi para pengrajin lokal. Hasil dari pengembangan desain ini bisa meningkatkan daya jual sebesar 150-200% dibanding nilai sebelumnya

e. DENY WILLY & G. PRASETYO ADHITAMA – Pemanfaatan Dahan Salak untuk Produk Pelengkap Interior. (hlm. 203-212).
Ringkasan
Jatuhnya harga buah salak Manonjaya empat tahun terakhir mendorong masyarakat menebangi 7000 hektar perkebunan rakyat dan menggantinya dengan tanaman lain yang dianggap lebih memiliki nilai ekonomi, seperti: pisang, singkong, talas dan sebagainya. Untuk menghindari ancaman erosi serius dan menjaga pelestarian, maka tim peneliti ini, bekerjasama dengan masyarakat setempat, organisasi kemasyarakatan serta pihak pemerintah terkait melaksanakan suatu penelitian berupa upaya pemanfaatan alternatif dahan salak. Dahan salak merupakan potensi perkebunan salak yang berlimpah dan belum termanfaatkan secara optimal. Kegiatan ini sekaligus bertujuan untuk merintis pembentukan wirausaha baru di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kini telah telah terbentuk satu usaha inti yang menyerap lebih dari 50 orang penduduk sebagai pemasok bahan baku bilah dahan salak. Kegiatan penelitian ini juga sekaligus menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian perkebunan. Saat ini, produk kerajinan bilah dahan salak mulai berdampak terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat..

JURNAL ILMU DESAIN VOL. 1 NO.2 2006

a. YUSWADI SALIYA – Pendekatan Interdisiplin dalam Desain: Suatu Penjelajahan Awal. (hlm. 75-88).
Ringkasan
Desain sebagai kegiatan interdisiplin bisa didekati dari berbagai sudut. Secara umum, tulisan ini menelusuri iterasi sejarah untuk mengamati kecenderungan baru, seperti fenomena gerakan renaisan dan pencerahan di Eropa (Barat) beserta dampak paradigmatik sosial-budayanya terhadap pemahaman ranah desain, atau seperti kebangkitan kembali akan kesadaran tubuh dan pengalaman pragmatik sehari-hari. Secara khusus, tulisan ini juga menyoroti gagasan simbiosis Kurokawa dari Jepang yang mencerminkan pendekatan ketimuran bersandingan dengan gagasan adaptasi(Piaget/Norberg-Schulz) sebagai landasan desain yang baru. Cara-untuk-tahu secara desain, sebagai budaya ketiga (Cross), diketengahkan sebagai pembanding terhadap kecenderungan dikotomik-hegemonik modernis yang dipandang bermasalah. Gagasan Richard Buchanan diajukan sebagai excursus, untuk membaca kategorisasi dalam wacana desain secara interdisipliner. Penjelajahan awal ini diakhiri secara terbuka dengan mengemukakan berbagai kemungkinan dalam bentuk amsal sesudah terbebasnya kembali berbagai variabel dalam desain.

b. JAKOB SUMARDJO – Konsep Halus dan Kosong Dalam Seni (hlm. 89-102).
Ringkasan
Di dalam tulisan ini dibahas tentang pengertian seni. Seni menyangkut segala sesuatu yang memiliki nilai halus, kecil, lembut, dan bertolak dari patokan dasar: penguasaan ketrampilan dan pemahaman filsafat. Sebab nilai seni mencakup tiga kategori, yakni: nilai logika (benar/salah), etika (baik/jahat) dan estetika (indah/buruk). Di dalam seni tradisi etnik Indonesia ketiganya ini menyatu. Untuk memahaminya, kita memerlukan pembedaan tingkatan pengetahuan: (1) tingkat kawruh (pengetahuan hidup sehari-hari), (2) tingkat ngelmu (pengetahuan halus, spiritual, paradoksal) dan (3) tingkat kasunyatan (pengetahuan sempurna, yang tunggal). Inilah yang menjadikan estetika tradisional Indonesia penuh dengan pasangan paradoksal namun mengarah ke yang tunggal. Estetika ini mendasari makna artefak budayanya; pasangan paradoksal (misal: laki-perempuan, langit-bumi) memiliki tujuan untuk mengingatkan kita akan pentingnya harmoni dalam kehidupan.

c. JULY HIDAYAT – Kode Ganda Dalam Desain Interior Kontemporer: Suatu Kajian Poskolonial. (hlm. 103-114).
Ringkasan
Di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jawa dan Bali, dicermati adanya fenomena desain interior eklektik yang menghadirkan kode ganda, yaitu kode budaya Barat dan Timur secara bersama-sama. Dalam hal ini kode budaya Barat diwakili oleh idiom-idiom visual gaya klasik dan gaya modern, sedangkan kode gaya Timur diwakili oleh gaya etnik atau tradisional Indonesia. Dalam kajian ini, kasus interior kode ganda dikaji melalui teori poskolonial, karena dalam teori ini, eklektisisme, sebagai ideologi desain, merupakan upaya konseptual untuk memperjuangkan identitas budaya lokal di tengah dominasi budaya global. Selain itu eklektisisme adalah untuk merepresentasikan egalitas antara budaya Barat dan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk: (a) memahami pengertian kode ganda dalam wacana desain poskolonial, (b) menawarkan suatu pemahaman atas pola penerapan eklektisisme di Indonesia, dan (c) mengupas kode ganda melalui klasifikasi sintaksis dan semantik ideologis. Hasilnya, di dalam klasifikasi sintaksis, terdapat pola adopsi, adaptasi, maupun adeptasi, serta bahasa estetik pastische, parodi, kitsch dan skizoprenia. 1. Desain dan Studi Poskolonial Definisi desain poskolonial adalah kombinasi elemen-elemen desain yang mempergunakan kode ganda, di mana di dalamnya terjadi transposisi (saling intervensi dan saling silang) kode-kode oposisi biner dalam berbagai bentuk kombinasi, sebagai representasi politik, sosial, budaya bangsa, bahkan antar pribadi yang mengalami imperialisme budaya secara langsung atau tidak langsung. Kajian ini mempergunakan kombinasi metode kritisisme poskolonial, semiotika dan studi banding terhadap kasus-kasus yang ada. Semiotika dipergunakan karena fokus kajiannya adalah pada masalah kode. Tujuan kajiannya adalah untuk mengenali tipe-tipe atau model-model relasi yang membentuk kode ganda, baik dari segi sintaksis maupun segi semantik ideologis. Studi poskolonial pada dasarnya bukan merupakan studi yang berkaitan dengan wacana kolonialisasi di tingkat fisik ataupun peristiwa setelah kolonialisme, tetapi lebih merupakan studi yang berkaitan dengan perjuangan identitas budaya dan hegemoni di tingkat representasi. Tingkat representasi ini sangat terkait dengan apa yang yang ditampakkan oleh karya-karya desain dalam perkembangannya kini. Dalam perkembangan desain interior kontemporer di kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta, terdapat kecenderungan untuk menghadirkan ruang-ruang interior eklektik, yaitu interior bergaya campuran modern dan tradisional (dari segi waktu), atau antara gaya interior yang berasal dari budaya Barat dengan budaya Timur (dari segi ruang).

d. Seruni Kusumawardhani – Vernakularisme pada Desain Perangkat Jual Pedagang Makanan Keliling di Bandung. (hlm. 115- 126)
Ringkasan
Penelitian ini menjelaskan vernakularisme pada perangkat jual Pedagang Makanan Keliling (PMK) di Bandung secara deskriptif analitis. Kehadiran PMK merupakan keniscayaan yang terjadi di setiap masyarakat urban di Indonesia. Penelitian dimulai dari pemikiran dan tujuan peningkatan mutu desain perangkat jual PMK agar meningkatan mutu makanan yang dijual. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan sosio-budaya dengan metode etnografi. Metode ini bertolak dari teori-teori tentang vernakularisme dalam desain dan masyarakat urban. Pertama adalah dengan melalui observasi untuk penentukan rumusan masalah penelitian. Kedua adalah menganalisis vernakularisme, konsep dan karakteristik nya, pada perangkat jual PMK melalui teori komplektsitas fungsi. Melalui analisis yang dilakukan, dapatlah disimpulkan bahwa desain perangkat jual PMK, walau tidak terdesain secara khusus dan hanya menggunakan konstruksi sederhana, namun sebenarnya adaptif terhadap perkembangan teknologi dan terus mengalami perbaikan dalam konteks ruang dan waktu.

e. Donnie B. Wijaksana, Achmad Haldani, Dudy Wiyancoko – Pemanfaatan Sampah Alumunium Untuk Pengembangan Desain Produk. (hlm. 127-138).
Ringkasan
Aluminium adalah salah satu material yang sering digunakan oleh masyarakat, karena karakteristiknya yang ringan, kuat, mudah diproses dan tahan korosi. Besarnya tingkat penggunaan aluminium menyebabkan besar pula jumlah polutan berupa sampah dan limbah aluminium. Penggunaan material sampah aluminium dengan cara daur ulang merupakan salah satu cara yang efektif untuk menghindari polusi lingkungan. Riset ini memuat proses eksperimentasi pada sampah aluminium yang terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu: (a) Eksplorasi bentuk dengan teknik pengecoran; (b) Eksplorasi perubahan suhu; (c) Eksplorasi kimia untuk mendapatkan kemungkinan bentuk baru akibat reaksi kimiawi; (d) Eksplorasi penggabungan limbah aluminium dengan material lain; dan (e) ksplorasi penggabungan hasil cetakan aluminium. Hasilnya, kombinasi limbah aluminium dan limbah gelas merupakan bahan potensial untuk membuat beragam produk dengan fungsi sederhana, misalnya: perangkat makan dan aksesori busana. Hasil ini dapat menjadi acuan diversifikasi bagi industri kecil-menengah di bidang scrap aluminium.

JURNAL ILMU DESAIN VOL. 1 NO.1 2006

a. WIDAGDO-Estetika Dalam Perjalanan Sejarah: Arti dan Peranannya dalam Desain. (hlm. 3-16)
Ringkasan
Desain selalu mengacu pada estetika. Ia tidak semata berkenaan dengan persepsi visual-fisikal saja, namun mencakup konsep yang abstrak, yakni: yang benar, teratur, dan berguna. Tulisan ini memaparkan bahwa estetika memiliki watak transendental, keberaturan, dan pragmatik. Estetika memperoleh tantangan ketika modernisme memilah antara “kegunaan” dan “estetik”, sebagaimana antara desain dan seni. Selanjutnya posmodern juga melepas estetika, dari persepsi tentang keindahan menuju pada pluralisme makna. Oleh karena itu pendidikan desain di Indonesia harus memperjuangkan kembali metoda dasar yang digagaskan para pemikir dunia ribuan tahun lalu. Desainer, khususnya desainer interior, hendaknya memperjuangkan kebenaran estetik, sebab “desain adalah suatu kearifan yang ditampakkan”.

b. IMAM BUCHORI ZAINUDDIN – Desain, Sains Desain dan Sains tentang Desain: Telaah Filsafat Ilmu. (hlm. 17-34).
Ringkasan
Desain mengalami perkembangan makna, tidak lagi suatu kegiatan menggambar, melainkan kegiatan ilmiah. Memang masih terdapat polemik antara desain sebagai kegiatan enjinering ataukah sebagai kegiatan intuitif, namun yang ditekankan adalah desain sesungguhnya berurusan dengan nilai-nilai. Ia relatif terhadap acuan nilai yang dianut oleh pengambil keputusan. Oleh karena itu, desain akan terus berkembang dengan dua pendekatan, yakni: engineering dan humanities. Tulisan ini merunut perkembangan filsafat ilmu yang melatari lahirnya sains desain sekaligus membuktikannya bahwa desain, baik konsep, teori maupun konfigurasi artefaknya, selalu bersifat kontekstual.

c. KIYOSHI MIYAZAKI; DUDY WIYANCOKO – Perkembangan Pendidikan Desain dan Ilmu Desain di Jepang. (hlm. 35-48)
Ringkasan
Modernisme Jepang mengartikan hasil desain sebagai benda pakai. Pendidikan desain selanjutnya menggeser arti desain sebagai sistem yang menghasilkan kegunaan. Menghadapi tantangan masa depan, pendidikan tinggi desain perlu peduli terhadap dunia pembuatan artefak (monozukuri). Pertama, mensinergikan desain sebagai entitas visual kreatif dengan bidang-bidang enjiniring dan ilmu kemanusiaan. Kedua, mempopulerkan kuliah desain nyata, dan program kemitraan dengan industri. Ketiga, merintis program pasca-sarjana desain pola terbuka, dan keempat, mengenalkan ilmu desain sejak sekolah dasar. Ilmu desain nantinya akan terbagi menajam menjadi berbagai keahlian, yakni: desain dan kebudayaan, desain produk, desain
komunikasi visual, desain lingkungan, desain dan material, dan seterusnya.

d. INDRA NURHADI, WIRANTO ARISMUNANDAR, DJOKO SUHARTO, FARID R. MULYA. – Mechanical Engineering dalam Perspektif Desain sebagai Ilmu. (hlm. 49-62).
Ringkasan
Bila kegiatan desain dipahami sebagai kegiatan mencari solusi suatu kebutuhan, maka dapat dikatakan bahwa bidang keahlian desain tersebar di berbagai departmen di ITB. Dalam rangka menyamakan persepsi dan mengkaji gagasan keserumpunan desain, makalah ini ditulis untuk mengenalkan hal-hal khusus tentang “mechanical engineering design”. Contoh mewakili desain yang berciri ”murni” mesin dan desain yang memerlukan keahlian multi-disiplin yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengkaji kontribusi dari masing-masing bidang keahlian. Untuk me-nyamakan persepsi keserumpunan, mem-bangun komunikasi dan sinergi disampaikan matriks kompetensi yang menyatakan kontri-busi berbagai disiplin dalam suatu desain dengan permasalahan yang semakin rumit.

e. YASRAF AMIR PILIANG – Pluralitas Bahasa Rupa: Membaca Pemikiran Primadi Tabrani. (hlm. 63-74).
Ringkasan
Bahasa rupa (visual language) dipahami secara berbeda-beda oleh para ilmuwan. Bahasa rupa yang digagaskan oleh Primadi Tabrani, Guru Besar FSRD-ITB, memiliki arti khusus, yakni bahasa tentang rupa, tentang aspek bercerita gambar-gambar prasejarah maupun gambar anakanak. Teori ini berbeda dengan bahasa rupa dalam kajian semiotika. Namun, terdapat persinggungan dalam persoalan bercerita dan denotasi di semiotika. Terdapat pula aspek khusus yang dikaji oleh Primadi, namun tidak dikaji di semiotika, yaitu cara penggambaran dan bercerita secara denotatif. Kedua hal ini telah dilupakan di dalam kajian rupa di Indonesia maupun di Barat yang lebih mengutamakan kajian tingkat konotatif. Oleh karena itu kajian Primadi telah berkontribusi besar bagi kajian semiotika visual secara luas.

Untuk isi lebih lengkap silahkan kunjungi situs : http://www.jurnaldesain-itb.com